| (Sumber Gambar: Google Images) |
Kita patut mempertimbangkan segala sesuatu yang
menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan namun yang terutama adalah
bersikap objektif. Apalagi terutama pada pemilihan calon pemimpin maupun calon
wakil pemimpin yang dapat menentukan nasib negara Indonesia. Hal tersebut
menyatakan bahwa kita sendiri yang secara tidak langsung menentukan hasil
pilihan kita sendiri, kalau saja masyarakat Indonesia boleh berpandangan
objektif dan memiliki kesatuan hati, terutama berani menyatakan hal yang benar
dan mengkritik ataupun melawan hal yang tidak benar terutama kesatuan hati yang
dimaksud adalah, dimana masyarakat menginjak kaum mayoritas yang menganut
prinsip tersebut.
Namun subjektivitas dapat mencuat sewaktu-waktu
karena bagian dari strategi dalam mengkampanyekan suaranya dan maksud bagi tiap
kubu capres-cawapres, seperti faktor kedekatan, ataupun pemilihan suatu badan
organisasi, adanya dukungan dari beberapa tokoh penting, dsb.
Menginjak tanggal 8 Juni persaingan pun semakin
ketat dan begitu ‘panas’. Karena tersisa waktu 1 bulan (31 hari) untuk antar
kubu dapat berkampanye dan menjalankan strateginya bahkan hingga untuk
mengungguli kubu lawan. Berbagai isu dari setiap kubu akan digunakan untuk
menjatuhkan antar kubu. Bahkan hingga permainan Black Campaign, yakni isu-isu
yang tidak benar dan faktanya tidak dapat dibuktikan untuk menjatuhkan dan
menyebarkan isu negatif dalam salah satu kubu.
Penentuan segmentasi merupakan salah satu hal
yang penting, kita tidak dapat memukul rata target kita secara korporat, kita
targetkan secara spesifik, karena belum tentu suatu kalangan masyarakat
tentulah terpengaruh dan berminat untuk memilih suara kita. Dengan pertimbangan
dan prediksi yang telah rancangkan.
Berbagai media iklan baik tv, koran maupun
online dipergunakan dalam berkampanye. Pemilihan fasilitas media merupakan hal
yang penting dalam mencitrakan calon pasangan, agar publik dapat mengetahui apa
yang ditekankan atau dicitrakan, yang menentukan gambaran elektabilitas setiap
antar calon pasangan bagi masyarakat Indonesia. Dalam hal ini pada kubu
Prabowo-Hatta, media yang mendukung antara lain: Viva Group (TVOne dan ANTV)
dan MNC Group (RCTI, MNCTV dan GlobalTV). Sedang pada kubu Jokowi-JK media yang
mendukung antara lain: MetroTV (Media Group) dan sejumlah aktivitas media sosial.
(Sumber: Headline
Koran JawaPos, Selasa 20 Mei 2014)
Salah satunya adalah penggunaan media outdoor.
Media outdoor adalah salah satu media ampuh yang dapat jangkauannya berdasarkan
teritori, wilayah, berbicara tentang pemilihan tempat yang strategis (seperti
ramai/tidaknya, dsb.), dan yang terutama bagaimana mengemas dan mendesain
baliho dan poster agar walaupun sekelebat (sekali melihat) apakah baliho dan
poster tersebut dapat menarik pandangan, eyecatching. Hal tersebut murni adalah
ide kreatifitasnya, tentang model desain, pewarnaannya, pesan yang disampaikan
bahkan hingga pemilihan tempat.
(Sumber Gambar: Google Images)
Bahkan berbagai isu gambar humor atau komik
telah beredar baik dimedia online maupun dalam media sosial tentang isu-isu
hangat yang beredar dimasyarakat, dan gambaran-gambaran tersebut bersifat
menyindir dan seringkali tanpa bukti kebenaran fakta yang pasti.
![]() |
| (Sumber Gambar: Google Images) |
Bahkan beberapa kritik dan pendapat kritis dalam
pengamat politik ataupun tokoh masyarakat, bahkan sampai pada actor/artis, pula
grub band dapat mempengaruhi sejumlah minat pemilih di berbagai jajakan daerah maupun kota
ataupun pulau yang terbentang di seluruh negeri Indonesia.
Dan beberapa hasil survey yang dilakukan oleh LSI (Lembaga Survey Indonesia) dalam sebuah pernyataan portal
berita, sebagai berikut:
Pasangan nomor urut 2 Joko Widodo-Jusuf Kalla
(JK) masih mengungguli pasangan kandidat nomor urut 1 Prabowo Subianto-Hatta
Rajasa dalam survei pilpres yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI).
Dari 33 provinsi, duet yang diusung PDIP, PKB, NasDem, dan Hanura ini masih
unggul di 31 provinsi.
"Walaupun dari hasil survei menunjukkan Jokowi-JK sementara unggul tetapi Prabowo-Hatta trendnya naik, sedangkan Jokowi-JK cenderung stagnan," ujar peneliti LSI Rully Akbar dalam jumpa pers hasil survei nasional LSI 'Pertarungan Wilayah Strategis dan Efek Cawapres' di kantor LSI, Jl Pemuda N0.70, Rawamangun, Jaktim, Rabu (4/6/2014).
Survei dilakukan pada 1-9 Mei 2014 dengan metodologi multistage random sampling. Responden survei sebanyak 2.400 orang dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka dan kuisioner. Survei dilengkapi dengan riset kualitatif melalui FGD,in depth interview dan media analisis. Margin of error survei sebesar 2,0%.
Rully menjelaskan, survey dilakukan di 7 provinsi terbesar dengan jumlah populasi pemilih mencapai 70% dari total pemilih nasional. Dari 7 provinsi itu, Jokowi-JK unggul di 5 provinsi, dan Prabowo-Hatta unggul di 2 provinsi.
Berikut hasil survei selengkapnya:
[1] Jokowi-JK, [2] Prabowo Hatta, [3] Rahasia/Belum memutuskan
Jawa Barat: [1] 39,06% [2] 29,96% [3] 30,98%
DKI Jakarta: [1] 30,66% [2] 35% [3] 34,34%
Banten: [1] 26,25% [2] 33,53% [3] 40,22%
Jawa Tengah: [1] 38,57% [2] 15,54% [3] 45,89%
Jawa Timur: [1] 31,71% [2] 21,4% [3] 46,80%
Sumatera Utara: 48,16% [2] 16,38% [3] 35,46%
Sulawesi Selatan: [1] 43,75% [2] 19,25% [3] 37,%
Sisa di 26 provinsi lainnya:
[1] 32,76% [2] 21,28% [3] 45,96%
(Sumber: http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/06/04/161341/2599773/1563/jokowi-jk-masih-unggul-di-31-provinsi-prabowo-hatta-2-provinsi?9922032)
"Walaupun dari hasil survei menunjukkan Jokowi-JK sementara unggul tetapi Prabowo-Hatta trendnya naik, sedangkan Jokowi-JK cenderung stagnan," ujar peneliti LSI Rully Akbar dalam jumpa pers hasil survei nasional LSI 'Pertarungan Wilayah Strategis dan Efek Cawapres' di kantor LSI, Jl Pemuda N0.70, Rawamangun, Jaktim, Rabu (4/6/2014).
Survei dilakukan pada 1-9 Mei 2014 dengan metodologi multistage random sampling. Responden survei sebanyak 2.400 orang dengan menggunakan teknik wawancara tatap muka dan kuisioner. Survei dilengkapi dengan riset kualitatif melalui FGD,in depth interview dan media analisis. Margin of error survei sebesar 2,0%.
Rully menjelaskan, survey dilakukan di 7 provinsi terbesar dengan jumlah populasi pemilih mencapai 70% dari total pemilih nasional. Dari 7 provinsi itu, Jokowi-JK unggul di 5 provinsi, dan Prabowo-Hatta unggul di 2 provinsi.
Berikut hasil survei selengkapnya:
[1] Jokowi-JK, [2] Prabowo Hatta, [3] Rahasia/Belum memutuskan
Jawa Barat: [1] 39,06% [2] 29,96% [3] 30,98%
DKI Jakarta: [1] 30,66% [2] 35% [3] 34,34%
Banten: [1] 26,25% [2] 33,53% [3] 40,22%
Jawa Tengah: [1] 38,57% [2] 15,54% [3] 45,89%
Jawa Timur: [1] 31,71% [2] 21,4% [3] 46,80%
Sumatera Utara: 48,16% [2] 16,38% [3] 35,46%
Sulawesi Selatan: [1] 43,75% [2] 19,25% [3] 37,%
Sisa di 26 provinsi lainnya:
[1] 32,76% [2] 21,28% [3] 45,96%
(Sumber: http://news.detik.com/pemilu2014/read/2014/06/04/161341/2599773/1563/jokowi-jk-masih-unggul-di-31-provinsi-prabowo-hatta-2-provinsi?9922032)
Hasil pun belum
memutuskan, namun biarlah pada pemilihan tanggal 9 Juli 2014 yang menjadi penentuan,
siapakah yang akan terpilih, kita dapat melihat kompetensi dan kemampuan
seseorang tidaklah dari apa yang dicitrakan, namun dari kualitasnya dalam
menyampaikan pendapat, seperti akan dilaksanakan debat capres dan cawapres. Berikut ini adalah jadwal penyelenggaraan debat capres berdasarkan
keputusan KPU dan hasil undian.
·
8 Juni 2014, debat capres
diselenggarakan dan ditayangkan olehSCTV.
·
15 Juni 2014, debat cawapres
diselenggarakan dan ditayangkan oleh Metro TV.
·
22 Juni 2014, debat capres
diselenggarakan dan ditayangkan olehTV One.
·
29 Juni 2014, debat cawapres diselenggarakan
dan ditayangkan oleh RCTI.
·
5 Juli 2014, debat pasangan
capres-cawapres diselenggarakan dan ditayangkan Kompas TV dan TVRI.
(Sumber: http://nasional.kompas.com/read/2014/05/24/1359426/Ini.Jadwal.Debat.Capres.dan.Cawapres.di.Televisi)
Dan sebagai penutup. Didunia
ini tidak ada manusia yang sempurna, namun yang kita tentukan dan kita pilih
adalah sosok pemimpin yang kompeten (mampu) dan sesuai (cocok) dengan segala
apa yang dijanjikannya (visi-misi), namun tidak sekedar janji belaka, ada
langkah pasti yang dikerjakannya. Dan yang terutama sosok pemimpin yang jujur,
berintegritas (mengadopsi nilai-nilai kepemimpinan secara umum), dan bukan
sosok pemimpin yang korup, untuk memperbaharui sistem Indonesia yang sudah korup
ini secara perlahan dan bertahap. (*Vin) (9/6 2014)


0 comments:
Post a Comment