(Personal Jurnalism)
Di suatu pagi subuh hari. Saat sinar matahari belum menerangi
langit secara keseluruhan. Ku tersadar dan terbangun
dari tidurku yang lelap karena mendengar suara erangan doa dan lagu pujian
yang begitu k’usyuk dan bersungguh-sungguh kepada Tuhan. Saat ku intip dengan penglihatan yang masih pudar, dan kulihat
saudara-saudaraku yang masih tertidur, dalam kesungguhan mamaku
berdoa, berharap akan nasib yang lebih baik terhadap keluarganya pada pagi hari
yang masih subuh. Wanita tersebut berdoa diatas ranjangnya diantara anak-anaknya yang masih dalam posisi tidur dan dalam
keadaan bersilah kaki menyanyikan beberapa lagu pujian dan berdoa.
“Tuhan aku berdoa untuk keluarga, jamah hati suamiku Yudy,
ubah hatinya. Dan Engkau yang boleh menyertai anak-anakmu ini, Engkau boleh
menjadikan Melissa seperti tiang-tiang penjuru yang dipakai untuk pahat dasar bangunan,
dan Hendy dan Alvin boleh menjadi tanaman yang tumbuh subur pada masa tuanya.”
Kata-kata doa yang seringkali sudah ku dengar dalam
ucapan doanya. Namun setelah sekian lamanya sempat dia lelah dalam semua hal
yang terjadi dalam kehidupannya, dan tidak mengawali hari-harinya dengan doa
selama beberapa waktu, kemudian dalam hari-hari ini kembali lagi dengan sikap
hati yang benar dan berserah kepada Tuhan yang menjadi keyakinannya.
Setiap perkataan doanya dipanjatkannya secara
sungguh-sungguh. Sembari menyanyikan lagu pujian, air mata mulai mengalir dan
membasahi pipinya, kemudian diambilnya tissue yang telah diletakkannya
disamping silah kakinya untuk menyeka air matanya yang
mengalir deras,
kemudian melanjutkan doanya kembali dengan k’usyuk.
Ku lihat jam handphone di sebelahku sekilas, dan ku
lihat waktu menunjukan pukul 06.30, “ah kuliah masih jam 09.00.” pikirku. Dan
karena dukungan mataku yang begitu berat dan masih mengantuk, kulanjutkan
tidurku secara sekilas.
Pukul 07.00 tepat. Setelah selesai berdoa ia
segera bergegas bangun dari ranjangnya, keluar dari
kamarnya dan segera memanaskan dan
memepersiapkan makanan bagi kami sekeluarga. Masih
dengan rasa kantuknya, sesekali dia duduk kemudian minum sembari menunggu
makanannya masak, panas dan siap dimakan. Dan melanjutkan
kembali aktivitasnya untuk segera mempersiapkan meja makan dengan
memberi tatakan dan alas meja.
Pada pukul 07.47, mamaku membanguniku untuk berpindah
tempat, karena kamarnya akan dibersihkan. Karena kepala yang berat, dan tidur
dengan waktu yang kurang cukup, ku berpindah diruang tamu dan merebahkan diriku
diatas sofa yang cukup empuk dan dingin, dan dalam hitungan detik, kembali lagi
dalam kelelapan tidur.
Namun karena mimpi yang cukup menyeramkan, aku
terbangun dengan segera, dan sadar bahwa waktu menunjukan pukul 08.30. “Nutut…!”
pikirku. Segera aku bangun dan mempersiapkan diriku.
Kusadari diwaktu yang singkat tersebut, aku tidak
sempat memulai jam ‘teduhku’ dikamar, sedang aku melihat mamaku sudah mengawali
harinya dengan doa. Mengevaluasi sikapku yang tidak lebih baik dari mamaku.
Aku bersyukur akan pribadinya, dan teringat akan awal
kehidupannya, dengan suami yang tidak sepenuhnya bertanggung jawab, dengan
kehidupan 3 orang anak, mama kuberjuang, menghidupi yang terbaik bagi
keluarganya, walau dalam rasa sakit hati terhadap sikap suaminya yang menjadi
papaku. Dengan menyadari bahwa masa mudanya
telah telah diambil dan disia-siakan dari padanya karena perbuatan papaku.
Melalui karirnya dalam bidang properti yang menjadi
sumber pemasukannya untuk menghidupi kami. Sosok yang tersakiti karena dicaci maki
dan di sakiti oleh suaminya, namun berjuang sedemikian rupa untuk bertahan dan
menempuh jalan yang keras, demi sang anak-anak boleh memiliki masa depan. Keyakinannya
yang menuntun dia untuk mengambil langkah yang benar dan tetap bertahan.
Mamaku mengajarkan aku bahwa doa di
pagi hari yang memampukan dia untuk boleh menghadapi suatu hari dengan semangat,
yang membawa moodnya pula.
Dulu kala untuk setiap pagi harinya, saat masih
subuh, pagi-pagi benar mamaku berdoa, hal tersebut sepertinya
mempengaruhi perasaan dan membentuk karakternya menjadi sosok seorang mama yang
tegar, berprinsip dan menjadi lebih tegas. Pula dari latar belakang
keluarganya.
“Kakek adalah seorang
papa yang keras dan berprinsip buat mama, setiap
anak-anaknya diajarnya untuk bisa mandiri dan bukan dimanjakan. Kyu-Sun yang jadi koko mama aja bisa memasak sendiri, mandiri, dapat membedah
berbagai peralatan elektronik, dan banyak koko mama
yang kini banyak yang sukses dalam
pekerjaannya.” ucapnya dalam ingatanku.
Dan sudah cukup lama pula papaku hanya pulang dihari-hari
tertentu sekitar
pukul 11.30 malam pada hari senin dan itupun tidur
secara terpisah dengan kami, mama dan cece, koko, dan diriku yang tertidur
bersamaan dalam satu kamar, sedang papaku tidur
di kamar yang lain.
Dan sampailah aku dikampus, semua itu yang mewarnai diriku dengan kasih dan cinta seorang mama yang menginspirasiku.

0 comments:
Post a Comment