Pages

Thursday, June 19, 2014

Ketangguhan Mama Menginspirasiku

(Personal Jurnalism)

Di suatu pagi subuh hari. Saat sinar matahari belum menerangi langit secara keseluruhan. Ku tersadar dan terbangun dari tidurku yang lelap karena mendengar suara erangan doa dan lagu pujian yang begitu k’usyuk dan bersungguh-sungguh kepada Tuhan. Saat ku intip dengan penglihatan yang masih pudar, dan kulihat saudara-saudaraku yang masih tertidur, dalam kesungguhan mamaku berdoa, berharap akan nasib yang lebih baik terhadap keluarganya pada pagi hari yang masih subuh. Wanita tersebut berdoa diatas ranjangnya diantara anak-anaknya yang masih dalam posisi tidur dan dalam keadaan bersilah kaki menyanyikan beberapa lagu pujian dan berdoa.

“Tuhan aku berdoa untuk keluarga, jamah hati suamiku Yudy, ubah hatinya. Dan Engkau yang boleh menyertai anak-anakmu ini, Engkau boleh menjadikan Melissa seperti tiang-tiang penjuru yang dipakai untuk pahat dasar bangunan, dan Hendy dan Alvin boleh menjadi tanaman yang tumbuh subur pada masa tuanya.”

Kata-kata doa yang seringkali sudah ku dengar dalam ucapan doanya. Namun setelah sekian lamanya sempat dia lelah dalam semua hal yang terjadi dalam kehidupannya, dan tidak mengawali hari-harinya dengan doa selama beberapa waktu, kemudian dalam hari-hari ini kembali lagi dengan sikap hati yang benar dan berserah kepada Tuhan yang menjadi keyakinannya.

Setiap perkataan doanya dipanjatkannya secara sungguh-sungguh. Sembari menyanyikan lagu pujian, air mata mulai mengalir dan membasahi pipinya, kemudian diambilnya tissue yang telah diletakkannya disamping silah kakinya untuk menyeka air matanya yang mengalir deras, kemudian melanjutkan doanya kembali dengan k’usyuk.

Ku lihat jam handphone di sebelahku sekilas, dan ku lihat waktu menunjukan pukul 06.30, “ah kuliah masih jam 09.00.” pikirku. Dan karena dukungan mataku yang begitu berat dan masih mengantuk, kulanjutkan tidurku secara sekilas.

Pukul 07.00 tepat. Setelah selesai berdoa ia segera bergegas bangun dari ranjangnya, keluar dari kamarnya dan  segera memanaskan dan memepersiapkan makanan bagi kami sekeluarga. Masih dengan rasa kantuknya, sesekali dia duduk kemudian minum sembari menunggu makanannya masak, panas dan siap dimakan. Dan melanjutkan kembali aktivitasnya untuk segera mempersiapkan meja makan dengan memberi tatakan dan alas meja.

Pada pukul 07.47, mamaku membanguniku untuk berpindah tempat, karena kamarnya akan dibersihkan. Karena kepala yang berat, dan tidur dengan waktu yang kurang cukup, ku berpindah diruang tamu dan merebahkan diriku diatas sofa yang cukup empuk dan dingin, dan dalam hitungan detik, kembali lagi dalam kelelapan tidur.

Namun karena mimpi yang cukup menyeramkan, aku terbangun dengan segera, dan sadar bahwa waktu menunjukan pukul 08.30. “Nutut…!” pikirku. Segera aku bangun dan mempersiapkan diriku.

Kusadari diwaktu yang singkat tersebut, aku tidak sempat memulai jam ‘teduhku’ dikamar, sedang aku melihat mamaku sudah mengawali harinya dengan doa. Mengevaluasi sikapku yang tidak lebih baik dari mamaku.

Aku bersyukur akan pribadinya, dan teringat akan awal kehidupannya, dengan suami yang tidak sepenuhnya bertanggung jawab, dengan kehidupan 3 orang anak, mama kuberjuang, menghidupi yang terbaik bagi keluarganya, walau dalam rasa sakit hati terhadap sikap suaminya yang menjadi papaku. Dengan menyadari bahwa masa mudanya telah telah diambil dan disia-siakan dari padanya karena perbuatan papaku.

Melalui karirnya dalam bidang properti yang menjadi sumber pemasukannya untuk menghidupi kami. Sosok yang tersakiti karena dicaci maki dan di sakiti oleh suaminya, namun berjuang sedemikian rupa untuk bertahan dan menempuh jalan yang keras, demi sang anak-anak boleh memiliki masa depan. Keyakinannya yang menuntun dia untuk mengambil langkah yang benar dan tetap bertahan.

Mamaku mengajarkan aku bahwa doa di pagi hari yang memampukan dia untuk boleh menghadapi suatu hari dengan semangat, yang membawa moodnya pula.
Dulu kala untuk setiap pagi harinya, saat masih subuh, pagi-pagi benar mamaku berdoa, hal tersebut sepertinya mempengaruhi perasaan dan membentuk karakternya menjadi sosok seorang mama yang tegar, berprinsip dan menjadi lebih tegas. Pula dari latar belakang keluarganya.

Kakek adalah seorang papa yang keras dan berprinsip buat mama, setiap anak-anaknya diajarnya untuk bisa mandiri dan bukan dimanjakan. Kyu-Sun yang jadi koko mama aja bisa  memasak sendiri, mandiri, dapat membedah berbagai peralatan elektronik, dan banyak koko mama yang kini banyak yang sukses dalam pekerjaannya.” ucapnya dalam ingatanku.

Dan sudah cukup lama pula papaku hanya pulang dihari-hari tertentu sekitar pukul 11.30 malam pada hari senin dan itupun tidur secara terpisah dengan kami, mama dan cece, koko, dan diriku yang tertidur bersamaan dalam satu kamar, sedang papaku tidur di kamar yang lain.

Namun dari hal yang tampak, itu yang menginspirasi aku menjadi orang yang berprinsip, kuat, terutama melihat kehidupan yang dengan  harapan dan prinsip yang menuntun jalan mamaku. Bahkan setiap kesedihannya, mengajarkan aku untuk memahami dan mengerti kehidupan. Mama memposisikan dirinya untuk tetap tegar, tegas, dan penuh kasih sebagai mama rumah tangga terhadap anak-anaknya. Pengharapannya itu tidak goyah, dan semangatnya untuk mengejar pengharapan itu yang memampukannya.

Dan sampailah aku dikampus, semua itu yang mewarnai diriku dengan kasih dan cinta seorang mama yang menginspirasiku.

0 comments:

Post a Comment